- Stefano Chiesa Suryanto adalah seorang diantara bocah-bocah istemewa. Dia baru berumur 12 tahun namun prestasi yang diukir di internasional sudah belasan kali, prestasi itu sudah ia raih sejak ia duduk di bangku SD kelas V St. Theresia. The Golden Boy ini (begitu teman-temannya menjulukinya) mendapatkan penghargaan dari MuRI karena anak pasangan Ary Suryanto dan Widya ini berhasil mengantongi medali emas di International Mathematics Olympiad and Science (IMSO) selama dua tahun berturu-turut. Anak ajaib ini setiap harinya selalu meluangkan waktu minimal dua jam untuk mengutak-atik rumus matematika, kecuali menjelang kompetisi, Stefano bisa belajar hingga enam jam setiap hari. Orang tua Stefano sudah melihat bakat anaknya ini dari dia berumur dua tahun. Dia paling suka berhitung, termasuk mengutak-atik semua mainan yang berbau matematika. Ary dan Widya semakin yakin akan bakat anak mereka di bidang matematika, ketika Stefano mengikuti kompetisi matematika se Jadotabek di Universitas Tarumanegara, waktu itu Stefano masih duduk di bangku kelas III. Di akhir acara panitia menyebut nama Stefano sebagai pemenangnya dari 1.000 peserta lainnya. Namun kedua orang tuanya tidak mau anaknya diistimewakan, mereka membiarkan anaknya tumbuh secara normal seperti anak-anak lainnya, Ary dan Widya tidak pernah memaksa Stefano untuk mengikuti les, juga ketika gurunya menyuruh Stefano langsung meloncat ke kelas VI, saat itu Stefano duduk di kelas IV, kedua orang tua Stefano pun tak menyetujui ide gurunya tersebut " Saya percaya di mampu. Tapi, kami khawatir itu mempengaruhi kepribadiannya. Saya tak ingin anak saya menjadi eksklusif. Saya ingin dia berbaur dengan teman-temannya." kata Ary.
- Dua bocah bersaudara ini sama-sama sukses mengukir prestasi internasional di bidang matematika, mereka adalah Christa Lorenza Soesanto dan Debora Kezia Soesanto. Christa sang kakak sekarang duduk di bangku kelas VII SMP Tirta Marta, sejak kecil memang tak pernah surut dengan prestasi. Nilai matematikanya selalu mendapatkan 9, tak heran sederat penghargaan ditingkat nasional maupun internasional menghiasi dinding kamarnya. Sama dengan Stefano, Christa pun juga pernah mendapatkan penghargaan dari MuRI sebagai siswa perempuan pertama yang berhasil menyabet emas dan the best overall dalam IMSO. Di kamarnya terdapat perpustakaan kecil yang berisikan koleksi buku-buku matematika dan beberapa ensiklopedia. Untuk dapat terus memotivasi dirinya, Christa menulis sebuah motto, yaitu GOOD - GOD = 0 itu mengandung makna luas baginya "ya kan, percuma kalau kita pintar, tapi lupa sama Tuhan" ujar bocah ber-IQ 150 itu. Menurut kedua orang tuanya, bakat Christa di bidang matematika sudah terlihat sejak dia berumur dua tahun. Dia amat menyukai menghitung benda-benda disekitarnya, sadar akan hal itu kedua orang tuanya terus merangsang bakat anaknya itu dengan memberikan berbagai mainan logika maupun poster bilangan di dinding kamar sang buah hati. Agar bakat anak terus dapat terasah dengan baik, ketika Christa berumur 4 tahun, kedua orang tua Christa memutuskan mengikutkan les matematika. Les-les privat semakin diintensifkan ketika Christa duduk di IV SD. dia juga rajin belajar dan latihan soal. Satu persatu prestasi nasional berhasil di genggam. Menginjak kelas VI, Christa mulai ikut kompetisi internasional. Debutnya di beberapa kompetisi tingkat dunia tidak mengecewakan "Aku ingin terus memberikan yang terbaik bagi Indonesia" ujarnya.
- Prestasi Debora sang adik termotivasi dari sang kakak, kinginan kuat ingin menjadi seperti sang kakak berprestasi di level dunia. Tak kalah dengan sang kakak Debora pun juga pernah mendapatkan MuRI, karena kemampuan matematikanya setara dengan mahasiswa semester 2 "Dia pernah dites sama dosen UI, hasilnya kemampuan dia setara dengan mahasiswa. Kemudian MuRI memberikannya penghargaan," timpal si ibu. Saat ini Debora berusia 6 tahun, namun di pernah menjadi guru les matematika bagi siswa-siswa SD hingga SMA. "Kira-kira 6 bulan, soalnya takut tidak bisa membagi waktu," sebutnya. Karena kinginannya terus dapat berprestasi sangat kuat, dia dan Christa sang kakak terus bersemangat untuk mengikuti les matematika. Agar rutinitas lesnya tak terasa membosankan, mereka bisa les dan belajar dimana saja. "Kita bisa janjian sama guru privat di mal, resto, atau di rumah yang penting enjoy," ujarnya. Agar kehidupan anak-anaknya seimbang, kedua orang tua mereka tak hanya memprioritaskan pendidikan mereka. Christa dan Debora tak boleh ketinggalan dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Karena itu, kedua orang tua mereka mengimbangi hal itu dengan mengajak kedua anaknya menengok anak yatim piatu di panti asuhan. Di sana mereka diajari berbagi dengan sesama.
Di atas prestasi anak-anak bangsa yang mereka secara ekonomi mampu untuk dapat terus memupuk bakat yang mereka miliki sejak mereka kecil. Lalu bagaimana dengan anak bangsa yang memang mempunyai bakat, namun untuk dapat sampai ke sekolah mereka saja, mereka harus berjuang melewati berbagai rintangan karena mereka memang berada di tempat terpencil.
Dia adalah Bayu Hartanto 12 tahun, anak sulung dari dua bersaudara pasangan Sunardi dan Nasi Hariati. Rumah Bayu berada di pulau Dem, sebuah pulau kecil yang tebentuk karena delta di sungai Porong. Selat Madura hanya sekitar 3 km ke arah timur rumahnya. Kediaman Bayu sangat sederhana, dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu. Ukurannya sekitar 3 meter X 8 meter, itu pun terbagi menjadi dua ruangan, ruang tamu dan ruang tidur sekaligus dapur. Lantai rumah Bayu hanya lantai tanah yang dipadatkan, tak ada kasur empuk untuk tidur bocah ini bersama orangtua dan adiknya. Hanya balai bambu tempat tidur mereka dan sebuah bantal kapuk untuk alas kepala mereka. Ketika malam tiba dan gelap menyelimuti, sinar lampu minyak menemani Bayu belajar. Konsentrasi bocah ini sedikit terganggu ketika angin memainkan api itu atau bahan bakarnya habis. Jika beruntung, Bayu belajar dengan penerangan lampu yang bersumber dari aki yang biasa digunakan bapaknya untuk mencari kepiting. Rumah Bayu hanya berjarak 20 meter dari bibir sungai, kalau air sungai meluap sudah sipastikan rumahnya terendam setinggi 10 cm. Di pulau Dem hanya ada delapan rumah, jarak rumah Bayu dari keramaian pasar 18 kilometer. Sekolah tempat Bayu menuntut ilmu pun jaraknya 3 Km, artinya sehari dia menempuh jarak 6 Km menggunakan sepeda dan menyebrangi sungai porong. Jalan yang dilalui pun jalan tanah, setiap musim hujan berubah menjadi sungai kecil dan kubangan kerbau. "Kalau kebanjiran nggak pakai sepatu ke sekolah. Jalannya juga pelan-pelan karena airnya selutut," terang Bayu. Perjuangan mengalahkan jarak yang jauh, hujan dan panas tak menyurutkan Bayu untuk belajar. Buktinya dia selalu mengerjakan tugas sekolahnya dengan baik dan mengukir prestasi. Kalau ada pekerjaan rumah biasanya Bayu menyelesaikan sepulang mengaji. Kalaupun hari masih terang biasanya bocah ini mendapat tugas menggiring kambing-kambing miliknya pulang kandang. Biasanya Bayu membawa buku untuk dibacanya sambil menunggu kambing-kambing itu merumput beberapa waktu. Ketika Bayu menemui kesulitan saat mengerjakan PR, dia akan bertanya ke bapak, ibu atau diisi sebisanya. "Kalau gak bisa tanya ke bapak atau ibu. Kalau belajar bareng teman gak pernah," terang Bayu. Dari pelajaran yang diterima dari sekolah tak ada yang tak bisa dikerjakan. Dan yang Bayu suka dari pelajaran sekolah adalah IPA, "senang aja sama pelajaran ini," jawabnya polos. Selain mendapatkan buku dan sepeda Bayu juga mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan sampai perguruan tinggi oleh para dermawan yang prihatin dengan keadaan bocah berbakat ini. Namun Bayu belum memikirkan sampai sejuah itu. Yang penting dia bisa sekolah dan menamatkan SD. "Aku mau kepingin jadi insinyur. Bikin tambak dan hasilnya buat rumah," sahutnya sambil tersipu malu. Sejak kelas satu Bayu selalu mendapatkan ranking pertama, nilai rata-rata Bayu selalu berada di atas 8. Meski tergolong pintar, kemampuan Bayu tak bisa dibandingkan dengan anak seusianya di sekolah yang berada di perkotaan. "Kalau dibandingkan dengan mereka, prestasi Bayu berada tengah-tengah. Tapi saya yakin kalau kepandaiannya bisa ditingkatkan. Ini semua hanya perbedaan tempat saja. Di sini kan terpencil dan budayanya lain dengan perkotaan," beber Syaifudin, wali kelas Bayu.
Kisah hidup anak bangsa yang sama-sama mempunyai bakat, namun hanya karena perbedaan sarana dan prasarana mereka pun berbeda nasib. Meraka adalah kebanggaan bangsa.
Dia adalah Bayu Hartanto 12 tahun, anak sulung dari dua bersaudara pasangan Sunardi dan Nasi Hariati. Rumah Bayu berada di pulau Dem, sebuah pulau kecil yang tebentuk karena delta di sungai Porong. Selat Madura hanya sekitar 3 km ke arah timur rumahnya. Kediaman Bayu sangat sederhana, dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu. Ukurannya sekitar 3 meter X 8 meter, itu pun terbagi menjadi dua ruangan, ruang tamu dan ruang tidur sekaligus dapur. Lantai rumah Bayu hanya lantai tanah yang dipadatkan, tak ada kasur empuk untuk tidur bocah ini bersama orangtua dan adiknya. Hanya balai bambu tempat tidur mereka dan sebuah bantal kapuk untuk alas kepala mereka. Ketika malam tiba dan gelap menyelimuti, sinar lampu minyak menemani Bayu belajar. Konsentrasi bocah ini sedikit terganggu ketika angin memainkan api itu atau bahan bakarnya habis. Jika beruntung, Bayu belajar dengan penerangan lampu yang bersumber dari aki yang biasa digunakan bapaknya untuk mencari kepiting. Rumah Bayu hanya berjarak 20 meter dari bibir sungai, kalau air sungai meluap sudah sipastikan rumahnya terendam setinggi 10 cm. Di pulau Dem hanya ada delapan rumah, jarak rumah Bayu dari keramaian pasar 18 kilometer. Sekolah tempat Bayu menuntut ilmu pun jaraknya 3 Km, artinya sehari dia menempuh jarak 6 Km menggunakan sepeda dan menyebrangi sungai porong. Jalan yang dilalui pun jalan tanah, setiap musim hujan berubah menjadi sungai kecil dan kubangan kerbau. "Kalau kebanjiran nggak pakai sepatu ke sekolah. Jalannya juga pelan-pelan karena airnya selutut," terang Bayu. Perjuangan mengalahkan jarak yang jauh, hujan dan panas tak menyurutkan Bayu untuk belajar. Buktinya dia selalu mengerjakan tugas sekolahnya dengan baik dan mengukir prestasi. Kalau ada pekerjaan rumah biasanya Bayu menyelesaikan sepulang mengaji. Kalaupun hari masih terang biasanya bocah ini mendapat tugas menggiring kambing-kambing miliknya pulang kandang. Biasanya Bayu membawa buku untuk dibacanya sambil menunggu kambing-kambing itu merumput beberapa waktu. Ketika Bayu menemui kesulitan saat mengerjakan PR, dia akan bertanya ke bapak, ibu atau diisi sebisanya. "Kalau gak bisa tanya ke bapak atau ibu. Kalau belajar bareng teman gak pernah," terang Bayu. Dari pelajaran yang diterima dari sekolah tak ada yang tak bisa dikerjakan. Dan yang Bayu suka dari pelajaran sekolah adalah IPA, "senang aja sama pelajaran ini," jawabnya polos. Selain mendapatkan buku dan sepeda Bayu juga mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan sampai perguruan tinggi oleh para dermawan yang prihatin dengan keadaan bocah berbakat ini. Namun Bayu belum memikirkan sampai sejuah itu. Yang penting dia bisa sekolah dan menamatkan SD. "Aku mau kepingin jadi insinyur. Bikin tambak dan hasilnya buat rumah," sahutnya sambil tersipu malu. Sejak kelas satu Bayu selalu mendapatkan ranking pertama, nilai rata-rata Bayu selalu berada di atas 8. Meski tergolong pintar, kemampuan Bayu tak bisa dibandingkan dengan anak seusianya di sekolah yang berada di perkotaan. "Kalau dibandingkan dengan mereka, prestasi Bayu berada tengah-tengah. Tapi saya yakin kalau kepandaiannya bisa ditingkatkan. Ini semua hanya perbedaan tempat saja. Di sini kan terpencil dan budayanya lain dengan perkotaan," beber Syaifudin, wali kelas Bayu.
Kisah hidup anak bangsa yang sama-sama mempunyai bakat, namun hanya karena perbedaan sarana dan prasarana mereka pun berbeda nasib. Meraka adalah kebanggaan bangsa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar