Sabtu, 16 Mei 2009

PRESTASI DITENGAH KETERBATASAN

Kisah para guru hebat yang berjuang untuk masa depan anak-anak bangsa ditengah himpitan ekonomi yang terbatas:
  1. Naftali Asmuruf adalah seorang guru dari daerah terpencil, beliau adalah penerima Satya Lencana dari presiden SBY pada 2 Desember tahun lalu sebagai guru berdedikasi. Sejak kecil beliau memang sudah terbiasa dengan penderitaan, karena itu pun dia menjadi sangat tegar ketika harus mengajar di sekolahan terpencil di bumi Papua. Setelah lulus sebagai Satigus (satuan tugas guru daerah pedalaman), beliau ditempatkan di SD Inpres Yopmeos, meski tempatnya sangat jauh berbeda dari tanah kelahirannya namun dia tetap bertekad untuk terus maju, tidak ada sedikit pun kata mundur setelah tahu daerah tempatnya mengajar adalah di daerah pegunungan, kondisi sekolah pun juga tak kalah memprihatinkan. Di SD Yopmeos hanya terdapat dua orang guru, dia dan kepala sekolah, karena hanya dua orang, kedunya membagi tugas, Naftali mengajar kelas IV-VI, dan sisanya kepala sekolah lah yang mengajar. Turunnya gaji pun sering telambat "saya terima gaji 3-4 bulan sekali. Itu pun kalau saya atau kepala sekolah ke Manokwari," tuturnya. perjalanan ke Manokwari memerlukan sedikitnya 10 jam perjalanan dengan perahu kayu. Tidak hanya sampai di situ penderitaan yang dialami Naftali, selama 10 tahun di mengabdi sebagai guru di daerah pegunungan yang jauh dari abad 21, pangkatnya tetap IIA. Banyak kendala yang dialami, namun Naftali tetap bersemangat menjalankan pengabdiannya "Saya jalani itu semua dengan sabar".
  2. Sejak kecil Rudi Hartono memang bercita-cita sebagai guru. Karena itu, ketika benar-benar menjadi guru, dia pun begitu menikmati profesinya meski harus tinggal di daerah terpencil. Perjalanan dari rumah ke sekolah tempatnya mengajar harus melalui medan berlumpur. Ketika beliau ditugaskan di SDN Pintu Padang, beliau harus menempuh jarak 15 km untuk sampai di sekolah tempatnya mengajar, itu beliau lalui dengan naik boat yang ongkosnya Rp 2.500, kalau tidak ada perahu beliau harus berjalan kaki dengan kondisi naik gunung, menuruni lembah, dan menyebrangi sungai. Pada tahun 1994-1999 beliau dipindah tugaskan ke SDN Gua Siayung, kondisi sekolahnya sangat memprihatinkan. Sekolah tersebut hanya mempunyai ruangan yang dibangun secara darurat, itu pun atas partisipasi masyarakat. Luasnya 6m x 7 m, ruangannya terbuat dari kayu dan bambu, serta atapnya dari ilalang. Kini Rudi mengajar di SDN 03 Muara Tais Tengah, Jarak dari sekolah tempatnya mengajar ke ibu kota Kecamatan Rao Mapat Tunggal sekitar 36 km. "Dulu medannya sangat susah dan harus ditempuh dengan melewati lumpur, menuruni jurang, mendaki bukit, dan melintasi sungai. Kini kondisi jalannya relatif baik, namun masih sedikit sulit. Apalagi saat-saat musim hujan" tutur Rudi. Beliau tak pernah mengeluh dengan kondisi yang ia jalani sekarang, "Saya lahir di kampung yang terpencil. Kalau saya sekarang mengabdi di tempat yang terpencil, itulah memang hidup yang harus saya jalani" kata pria 39 tahun tersebut. Motivasi, semangat dan dedikasinya untuk membangun dan membina anak-anak tak pernah kunjung padam dari setiap detak jantungnya, karena semangatnya itulah akhirnya dia mendapatkan penghargaan dari Presiden SBY pada 2007 di Istana Negara sebagai guru berdedikasi di dearah khusus terpencil tingkat nasional.
  3. Satu lagi pengabdi di tempat terpencil yang tidak pernah mengeluh, beliau adalah Sutrini. Dia kelahiran Boyolali, namun dia ikut pindah ke kalimantan bersama suami dan kedua anaknya dengan ikut transmigrasi sawit. Dari situ naluri gurunya bergejolak, dia mengumpulkan anak-anak para transmigran untuk diajak dalam kegiatan belajar-mengajar. Sutrini ketika itu satu-satunya guru yang mengajar dan dia harus mengajar 125 siswa yang terdiri atas 1-6 kelas, selain guru dia pun dipercaya oleh UPT (Unit Pelaksan Tekinis) sebagai kepala sekolah " Siapa lagi yang akan menjadi kepala sekolah kalau bukan saya" ujarnya sambil tertawa. Sekarang SD tersebut sudah memiliki delapan guru dan siswanya pun meningkat menjadi 140 siswa. Meski hanya memiliki lima lokal namun itu tidak menjadi kendala untuk tetap terus melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, kelas I dan II harus bergantian menggunakan lokal tersebut. Sama dengan guru yang lainnya yang juga mengabdikan dirinya di sekolahan terpencil, Sutrini pun kalau ingin mengambil gajinya sebagai guru, dia harus menempuh jarak 2,5 km menuju ke kota kendawang, ibu kota kecamatan. 1,5 jam Sutrini harus mencarter speed boat seharga Rp 400 ribu sekali berangkat, selanjutnya selama satu jam Sutrini harus menumpang ojek menuju ke kota Kendawangan. Wanita 42 tahun itu pada 2 Desember tahun lalu menerima penghargaan tingkat nasional (Satya Lencana Pendidikan) dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Itulah perjuangan para guru kita yang tak pernah ada kata menyerah untuk tetap terus memajukan Negeri kita ini. Mereka hanya sebagian dari guru yang terus berjuang demi anak bangsa. Di tangan merekalah bangsa ini terbentuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar